Kuliah Umum Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan RI

/, Uncategorized/Kuliah Umum Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan RI

Kuliah Umum Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan RI

Online24,Makassar, – Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Republik Indonesia melaksanakan Kuliah Umum di Kampus STIM Nitro Makassar dengan tema “Perkembangan Ekonomi dan Kebijakan Fiskal Indonesia”. Kuliah umum ini dibuka oleh Ketua STIM Nitro Prof.H.Marsuki,.DEA,.PhD, menyampaikan dalam sambutannya bahwa semoga kerjasama kegiatan ilmiah Seperti ini tetap terlaksana dimasa-masa yang akan datang, dan kerjasama STIM Nitro dengan Kementrian Keuangan RI dapat terus berjalan.

Kuliah umum ini dipandu oleh Dr.Muh.Ashari Ansar,.SE,.Msi sebagai moderator, dan Pemateri Radityo Harya Pamungkas,.ST,.MSc.,MIDEc (Kepala Sub bidang Harga PKEM Kemenkeu RI) dalam materinya, Radityo menyampaikan bahwa Nilai Tukar Rupiah Dipengaruhi Oleh Faktor Eksternal Dan Internal Termasuk didalamnya pengaruh mekanisme pasar (supply and demand), Pada periode Januari – 15 Oktober 2018, nilai tukar Rupiah telah terdepreseasi sebesar 12,6%. Tingkat depresiasi ini masih lebih rendah dibandingkan dengan beberapa negara berkembang lainnya seperti : (Argentina, Turki, India, Afsel, Brazil, Rusia).

Apa Yang Terjadi Di Rupiah, Tidak Terlepas Dari Kondisi Kebijakan Eksternal Antara lain terkait dengan kebijakan perdagangan AS serta berakhirnya era kebijakan moneter yang akomodatif dari The Fed, Salah satu faktor yang mempengaruhi pergerakan nilai tukar Rupiah selama tahun 2018 adalah faktor penguatan nilai tukar USD itu sendiri. Bahkan Sejak bulan Mei 2018, terjadi tren penguatan nilai tukar USD terhadap mata uang global. Penguatan USD ini juga didorong oleh kebijakan internal di Amerika Serikat yang mempengaruhi kondisi global (Mis. Suku Bunga The Fed, Kebijakan Perdagangan AS, Kebijakan Defisit Anggaran AS).

Selanjutnya, Raditya menyampaikan bahwa dalam Mencermati Perkembangan Makro Fiskal Perlu reformasi fiskal untuk penyehatan dan meningkatkan kredibilitas, ada empat kebijakan yang diperlukan yaitu: 1. Defisit dikendalikan dalam batas aman dan diupayakan menurun,

2. Keseimbangan primer diupayakan menuju positif,

3. Tax ratio diupayakan meningkat melalui terobosan kebijakan,

4.Utang dikelola secara prudent dan produktif, dalam jangka menengah rasio utang didorong semakin menurun.

Lain halnya dengan Perkembangan Dan Outlook Asumsi Dasar Ekonomi Makro, adapaun Potensi dan Risiko Pertumbuhan Ekonomi 2018, PMTB dan Konsumsi diperkirakan akan tetap tumbuh tinggi pada Q3 dan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi adalah Defisit neraca perdagangan sampai dengan Bulan Agustus 2018 sebesar USD4,1 milyar. Defisit ini diperkirakan masih terjadi sampai akhir tahun 2018.

Sedangkan Sektor industri pengolahan (industri makanan-minuman), dan sektor perdagangan masih akan terus menopang pertumbuhan seiring kinerja investasi di Semester satu. Laju Inflasi diperkirakan sesuai dengan sasaran, meskipun dibayangi risiko imported inflation karena depresiasi Rupiah terhadap Nilai tukar rupiah, Rupiah diperkirakan masih akan mengalami tekanan, termasuk bersumber dari kenaikan the Fed rate. Proyeksi Nilai Tukar Semester 2 sebesar Rp14.700/US$, sehingga hingga akhir tahun rata-rata nilai tukar diperkirakan sebesar Rp14.258/US$ Harga minyak mentah Indonesia , ICP masih relatif berada di level yang tinggi, terutama dipengaruhi oleh faktor geopolitik AS dan Timur Tengah. Lifting minyak dan gas bumi, Berdasarkan informasi SKK Migas, Lifting minyak diperkirakan meningkat didorong optimalisasi produksi di lapangan utama. Lifting Gas menurun dikarenakan tingkat penyerapan pasar yg masih rendah sehingga inventory meningkat. Tutup Raddityo.

Laporan : Dr. Rosnaini Daga, S.E., M.M
Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Nitro Makassar.

By | 2018-11-09T14:00:40+00:00 October 9th, 2018|Latest, Uncategorized|0 Comments

About the Author:

Leave A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.